Archive for the 'Film' Category

07
Jun
09

cin(T)a di Manchester

Baru aja nobar alias nonton bareng film cin(T)a di Manchester Academy, Student Union, University of Manchester, Jumat 5 Juni. film ini merupakan film independen garapan Sembilan Matahari Film dan Moonbeam Creations. Sepintas dari trailer yang ditampilkan sepertinya film ini menyajikan tema yang sensitif, kalau tidak ingin dibilang kontroversial. Soal cinta dua anak manusia beda agama. Menampilkan Cina yang dibintangi Sunny Soon sebagai sosok anak kuliahan umur 18 tahun yang enerjik, dan Annisa yang dibintangi Saira Jihan sebagai sosok anak kuliahan yang tidak juga beranjak lulus umur 24 tahun berpenampilan kalem.

Meskipun film ini film independen, rencananya akan dicoba untuk masuk jaringan 21 di Indonesia. Roadshow yang dilakukan di 5 kota di UK ini semacam strategi bagi produser untuk melihat respon, khususnya terhadap isu yang diangkat. Cerita sepanjang film menampilkan dua sosok sentral Cina dan Annisa, dengan dialog-dialog yang kritis, dan beberapa berbumbu bahasa yang boleh dibilang puitis atau filosofis. Kalau dibilang film ringan, untuk adegan-adegan hubungan dua anak manusia boleh lah untuk dinikmati, dari gaya serius sampai aksi yang lucu. Namun film ini lebih pantas dibilang film berat atau semi berat, karena sebenarnya mengajak penonton untuk berfikir. Tidak sekedar soal hubungan dua anak manusia beda agama, tapi hubungan masyarakat yang lebih luas, agama dan negara, atau bahkan manusia dengan agama itu sendiri. Ini mungkin yang bisa dibilang sensitif. Meskipun sosok Cina dan Annisa ditampilkan sebagai sosok yang sangat taat dengan agamanya masing-masing, namun adegan ketika mempertanyakan Tuhan boleh dibilang agak berani untuk ditampilkan. Film ini boleh dibilang bermain aman, konklusi cerita yang tidak berakhir dengan pernikahan antar keduanya dan hanya sebatas sahabat seakan memberi kesan bahwa mereka tidak memposisikan film ini sebagai film yang mempromosikan pernikahan beda agama. Namun demikian ada hal yang menggelitik yaitu sisipan-sisipan adegan wawancara realiti terhadap pasangan beda agama yang telah ‘menikah’. Sesuatu yang meskipun dimaksudkan buat menampilkan kejadian nyata di masyarakat, namun menjadi sesuatu hal yang sebenarnya tidak perlu, karena film ini sudah cukup menggambarkan realiti yang coba diangkat meski konklusinya berbeda. Meskipun menurut produser film ini, sesuai pemaparan saat diskusi pasca pemutaran film, film ini tidak dimaksudkan untuk mempromosikan pernikahan beda agama. Namun adanya sisipan tersebut bisa mengundang tanda tanya.

poster cin(T)aSoal kualitas film, dari sisi pengambilan gambar dan tata suara. Untuk segmen awal agak sedikit terganggu sama tata suara yang tidak pas mengiringi adegan, membuat seakan film bertempo sangat lambat. Pengambilan close up juga kurang berasa pas; mungkin maksudnya coba berartistik. Tapi untuk segmen tengah hingga akhir bolehlah dibilang lumayan, setidaknya cerita terasa lebih mengalir. Meski sempet juga agak-agak inkontinuiti atau agak berat seperti saat tampilan berita televisi soal kejadian pemboman gereja atau adegan ketika Cina mempertanyakan Tuhan. Oh ya, kalau diperhatiin hampir seluruh adegan film boleh dibilang hanya berisi dialog antara Cina dan Annisa; sisipan pemain lain cenderung bersifat minor. Biar begitu, dan terlepas bahwa kedua pemeran film ini juga bukan aktor/aktris yang berpengalaman, pembawaan tokoh boleh dibilang sukses berat.

Balik ke isu utama film. Setuju-setuju aja sih kalo film ini dimaksudkan untuk membuka dialog dan membangun saling pengertian antar umat beragama. Sesuatu yang sebenarnya juga sudah berjalan di Indonesia dalam skalanya masing-masing. Kalau soal tensi yang timbul, itu tinggal bagaimana pemuka agama bisa meredam atau memberi pengertian kepada umatnya. Jadi bukan hal yang baru, kecuali formatnya yang dalam bentuk film. Tapi kalau liat forum diskusi yang muncul, tema yang lebih banyak dibahas justru soal nikah beda agama itu sendiri ketimbang isu yang lebih luas. Buat mereka yang punya masalah ini akan bilang kalau ini film tentang mereka. Kalau masing-masing orang konsisten dengan agamanya, mestinya bisa tau dan sadar apa posisi dan konsekuensi dari pilihan yang diambil, tanpa terjebak romantisme belaka. Dan itu lebih kembali kepada personal masing-masing, ketimbang menyalahkan agama sebagai penghalang. Sadar akan pilihan keyakinan, sesuatu yang sudah jelas garis dan aturannya; tidak bisa ditawar atau ditukar dengan apapun bahkan atas nama cinta itu sendiri.

Kontroversi? Lebih cocok kalau dibilang sensitif. Namanya sensitif tinggal gimana produser film mengomunikasikan maksud dan tujuan film, dan tidak terjebak kepada stigma sebagai film yang mempromosikan pernikahan beda agama. Kalau ingat kejadian film Ayat-ayat Cinta, yang dinilai sebagian orang sebagai film yang mempromosikan poligami; walau maksud sebenarnya lebih kepada cinta kepada Tuhan yang sesungguhnya. Oh ya yang mau tau lebih jauh soal film ini bisa mampir ke www.godisadirector.com. Secara umum boleh lah film independen yang sepertinya akan menjadi film komersial ini dirating 4 dari 5.

23
May
09

Jagad X Code


Film komedi yang unik bahkan boleh dibilang spesial, Jagad X Code (2009). Dengan setting kota Yogyakarta, film ini benar-benar bisa mengekploitasi eksotisme kota dengan tampilan apa adanya. Bumbu dialog yang kadang disisipi bahasa Jawa menambah keunikan tersebut. Film yang disutradarai Herwin Novianto digawangi oleh pemain-pemain yang top, yang emang udah identik dengan ikon komedi, sebut saja Ringgo Agus Rahman, Opi Bachtiar, Desta Club 80′s, dan Butet Kartaredjasa. Kehadiran Tika Putri sebagai pemeran utama wanita juga punya akting yang apik yang memberikan magnet tersendiri.

Kota Yogya yang identik dengan seni juga terbawa dalam film ini, terasa dari latar musik yang digunakan yang terpadu secara ciamik. Bahkan ada adegan yang seolah beradegan seni semacam tarian. Sentuhan Djaduk Ferianto sebagai penata musik bener-bener ngasih nuansa yang khas. Djaduk sendiri lumayan dikenal sebagai seniman yang suka membawa aransemen musik dengan genre komedi.

O ya soal judul film, awalnya kita mesti ngebaca “jagad eks kod”, n mikir soal misi-misi rahasia. Kl semacam misi-misi sih emang iya. Tapi Jagad itu sebenarnya nama si pemeran utama yang diperankan Ringgo, sedangkan X Code ga lebih dari Kali Code, tempat tinggalnya si Jagad. Jadi kalo mo baca ya “jagad kali code”. 

Konsep cerita sangat sederhana tentang sekumpulan pemuda kampung pinggir kali yang mendapatkan misi dari seseorang untuk mencari flash disk. Kelucuan itu sendiri sudah dimulai ketika mereka tidak tahu apa itu flash disk. Kehadiran seorang cewek yang merebut barang yang dikira flash disk itu pun membuat cerita semakin berkembang. Akhir cerita, mereka akhirnya bisa tahu dan menemukan flash disk yang seharusnya dicari. Meskipun sederhana, namun adegan-adegan dan dialog yang ada lumayan mengena dan menghibur. Biasanya kalau nonton film kita aga menebak-nebak apa selanjutnya. Tapi di film ini kita sama sekali ga kepikiran bakal gimana selanjutnya ni film. Yang ada kita bener-bener nikmatin cerita dan kelucuan yang ada, bener-bener mengalir, nyaris tanpa inkontinuiti. Secara implisit film ini juga coba menyampaikan pesan-pesan mengenai kehidupan, ketulusan, dan kejujuran. Meski tidak lepas juga dari kelemahan manusia yang kadang melakukan sesuatu yang tidak pas dengan justifikasinya masing-masing. Bener-bener film yang apa adanya. Secara keseluruhan boleh lah ni film dirating 5 dari 5, top abies. 

07
Apr
09

5 Cinta

Baru aja nonton film “Love” garapan Kabir Bhatia di RCTI. Dulu tidak sempet nonton langsung di bioskop, dan kurang tertarik juga dengan trailernya. Tapi ternyata  cerita di film ini boleh dibilang menarik, tidak klise, dan mengalir. Ceritanya tentang pencarian cinta atau cinta yang dikecewakan, kepalsuan atau kejujuran. Tantangan yang berat memang untuk menyatukan lima setting cerita dengan lima pasang tokoh yang berbeda dalam satu film. Film ini berhasil membuat bintang-bintang film ini, sebut saja  Widyawati, Sophan Sophiaan, Luna Maya, Darius Sinathrya, Wulan Guritno, Laudya Chintya Bella, Fauzi Baadilla, Acha Septriasa, Irwansyah, Surya Saputra tidak sekedar pasang tampang. Akting aktor dan aktris lumayan bagus, kecuali Acha yang sepertinya kurang pas memerankan adegan pada beberapa bagian. Pengambilan gambar  terbilang ok, sudut yang pas dan artistik. Tata suara juga pas menyatu dengan film, ini juga ga lepas dari kontribusi Erwin Gutawa.

Ada narasi menarik yang diucapkan oleh Laudya C. Bella, “Apa yang kita ingat dari kenangan-kenangan yang terekam oleh kita, nama tempat, nama permainan, nama teman, atau kejadian adalah hal-hal yang mungkin lambat laun bisa terlupa. Tapi tidak dengan rasa, rasa senang rasa sedih yang akan terus kita bawa tanpa mudah tercecer di sepanjang perjalanan kita. Dan semakin kita dewasa kita akan menyadari bahwa di antara kenangan-kenangan tersebut ada satu rasa yang paling besar yaitu cinta. Cinta yang sejati cinta yang ketika kita kira sudah pergi ternyata cuma bersembunyi menunggu untuk kembali lagi.”

Meski mungkin akhir skenario cerita ada yang terasa kurang pas atau sudah bisa ditebak, secara keseluruhan film ini relatif enak untuk dinikmati. Kontinuitas film dapat terjaga dengan baik, hampir tidak membuat penonton bosan. Rating 4 dari 5.

07
Feb
09

He’s Just Not That Into You

“I have this guy, he left me a voicemail at work. So I called him at home. And then he emailed me in my blackberry. And so I texted it to his cell.  And now you just have to go around checking all these different portos, just to get rejected by several different technologies,” cuplikan dialog yang menarik dari film dengan judul yang agak panjang yaitu He’s Just Not That Into You (2009). Film ini diangkat dari sebuah buku populer dengan judul yang sama karangan Greg Behrendt & Liz Tuccillo, terbitan tahun 2005. Keduanya juga dikenal sebagai penulis Sex and the City. Film produksi New Line Cinema  ini mengusung banyak aktor/aktris seperti Ben Affleck, Drew Barrymore, Jenifer Aniston, Ginnifer Goodwin, dan lain-lain. Ramainya artis utama ini terkait dengan beberapa setting pasangan tokoh dengan ceritanya masing-masing. Konsekuensi dari banyaknya setting cerita membuat film ini terkesan sedikit membingungkan karena berganti-ganti cerita. Meskipun demikian, antar tokoh tersebut masih ada keterkaitan pertemanan, sehingga alur cerita tidak menjadi terlalu terpisah-pisah.

Film ini dibawakan dengan model semacam narasi yang dibawakan oleh tokoh yang boleh dibilang cukup sentral yaitu Gigi (Ginnifer Goodwin).  Bergenre komedi romantis, namun tidak benar-benar bernuansa komedi atau benar-benar bernuansa romantis. Cukup untuk membuat tergelitik dan sedikit nuansa romantisme. Adegan awal film ini impresif sebagaimana trailernya, lumayan menggelitik, termasuk beberapa adegan semacam wawancara atas suatu pernyataan dari orang-orang umum yang tidak terkait dengan cerita. Namun di tengah-tengah ada beberapa inkontinuiti yang cukup mengganggu, mungkin ini konsekuensi dari banyaknya tokoh yang tampil. Meskipun demikian, film ini cukup mampu menyampaikan pesan inti dari seni berhubungan, setidaknya dari dua kutub kontradiksi “The Rule vs The Exception” dan “The Truth vs The Lies”. Akhir cerita ini juga bagus, sebuah realita bagaimana cinta itu bertemu atau berpisah. Hal terbaik adalah lepas dari menduga-duga maupun kepura-puraan.

Em, sedikit review tentang bioskop. Ini film tayang perdana di UK tanggal 6 Februari 2009. Dan saya berkesempatan menontonnya hari ini di bioskop Vue, Lancaster. Pas mo beli tiket sempet bingung juga karena ga ada boks tiket. Ternyata boks tiket menyatu sama jualan makanan/minuman. Konsep yang menarik, lumayan memancing orang untuk pesan makanan/minuman setelah beli tiket. Ruangan bioskop lumayan besar, termasuk layarnya. Tata suara OK. Yang jelas sih lebih memuaskan daripada bioskop Odeon di Trafford Centre Manchester. O, ya sama ma yang di Manchester ni bioskop pas jam mulai tayang, ngiklan2 dulu juga, hampir 20 menit. Untung aja masih aga menghibur, ada beberapa iklan mobil yang lumayan lucu n keren.

Kapan ya tayang di Indonesia? Yang jelas sih, ni film masih dalam kategori menghibur, dan juga sedikit mengajak untuk berpikir atau gimana memahami hubungan. Love, or true love perhaps, is not a fairy tale, but a reality, so better make it clear. And still have a hope. Pengen tau lebih jauh apa dan bagaimana, mampir aja di situs resminya di http://www.hesjustnotthatintoyoumovie.com. Meski ada inkontinuiti, mempertimbangkan nilai cerita n deretan aktor/aktrisnya, boleh lah dirating 4 dari 5.

27
Dec
08

A Good Hero Can Not Possibly Be A Bad Vampire!

Ho.. ho.. akhirnya kesampaian juga nonton ni film. Twilight (2008) yang diangkat dari novel superlaris karya Stephenie Meyer (2005), menarik perhatian yang lumayan besar, minimal bagi fans berat novelnya. Sudah tidak asing lagi, sebuah film yang diangkat dari cerita yang menarik pasti laku keras. Cuma tantangannya ada pada penggarapan film itu sendiri, apakah bisa melampaui ekspektasi pembaca novel aslinya. Imajinasi bacaan kadang lebih kuat, dan bisa membuat film menjadi hambar kalau tidak digarap secara apik. Cerita novel aslinya sendiri sudah berkembang menjadi semacam Twilight Series atau dikenal sebagai Twilight Saga berlanjut dengan New Moon (2006), Eclipse (2007), dan terakhir Breaking Down (2008). Film lanjutannya pun New Moon (2009) saat ini sedang digarap. Bakal ada Harry Potter n Lord of the Ring jilid dua nih, berseri dan berlanjut.

Sebelumnya pengen bahas bioskopnya dulu nih. Nah, jadi saya nonton ni film di Bioskop Odeon di Trafford Center, Mall di Manchester, yang diklaim tergede se-UK. Tapi kayaknya sekarang dah kalah ma Westfield di London. O ya, kalo dibandingin sama Senayan City, Trafford Center mah jadi ga spesial. Tapi kalo yang Westfield boleh deh. Nah, balik ke Odeon lagi. Ni bioskop lumayan okeh dan royal di jumlah pemutaran film. Bayangin aja, dengan 20 layar yang tersedia, dia bisa muter film sebanyak apa? Cuma ya ga sebanyak 20 juga jenis film yang diputer, sekedar lebih bisa variasiin waktu pemutaran film dengan jeda yang lebih cepat. Sistem pemesanan tiket, bisa online, bisa lewat mesin, atau lewat counter. Di papan layar sih ga tertera tu film maen di layar mana, cuma ada info jam dan klasifikasi film (dewasa, remaja, bimbingan orang tua, semua umur). O ya, di UK juga ada LSF, tapi kerjaannya bukan nyensor film, hanya sekedar mengklasifikasikan. Pas beli, nanti di tiketnya baru tercetak di layar mana kita mesti menuju. Karena saya di layar 9, celingak-celinguk deh cari di mana tu layar 9. Agak aneh juga karena di depan pintu masuk tiap-tiap layar ga ada yang jaga. Terakhir sih baru ngeh pas keluar kalo ternyata tiketnya sebenarnya diperiksa di pintu masuk lorong cuma karena maen lewat aja n kebetulan kaga ditanya. Ya mungkin dia liat kalo saya lagi megang tu tiket. Na soal tempat duduk, di situ ga tertera apa pun. Jadi suka-suka mo duduk di mana. Yang jelas yang dateng duluan yang menang. Pas masuk sih masih kurang sepuluh menit dari jadwal, cuma tu ruangan remang-remang gitu. Biasa kalo di Indonesia kan lampunya terangan. Yah ga comfort aja, apalagi ga ada guide. Terusnya lagi iklannya minta ampun banyaknya, jadi pas jadwal mulai film bukan langsung diputer, tapi iklan dulu hampir 15 menit, ampe bosen. Parahnya lagi ga ada teks indonesia di bawah. Ya, jangan diharap, soalnya ni bioskop di negara yang punya bahasa. Sempet miss beberapa percakapan sih, ampe ni otak seolah mo ngehang mencerna what the story is talking, he.

Back to the movie. Saya sih belum pernah baca tu novel Twilight. Jadi pas liat trailernya pun ga tau kalo ni film kayak gimana. Kesannya sih film superhero gitu, malah sempet ngira another version of Smallville, the young Superman. Gimana ngga, bisa nyetop mobil yang mo nabrak, bisa lari super cepet, n bisa terbang lompat pohon ke pohon sesukanya. Plus ada tokoh cewek yang jadi kekasihnya. Kesan kedua pas ngeliat video clip soundtrack-nya berjudul Decode yang dinyanyiin sama Paramore. Karena aga ngefans ma ni Band, meski aga aneh di awal pas denger. Diperhatiin liriknya, kok oke nih. Jadi deh mulai tertarik ma cerita filmnya. Dan belakangan dikasih tahu sama ‘temen’ kalo ni film di angkat dari novel. Baru deh mulai nyambung, bergoogle dan mulai dapat gambaran lebih baik mengenai gimana ni film. Keputusannya, tonton aja. Meski mungkin di samping kiri kanan, akan lebih banyak remaja ketimbang orang dewasa. Pertama karena novel ini aslinya memang novel klasifikasi remaja dan filmnya pun klasifikasi remaja. Soal bumbu film yang berbau sex vulgar, di film ini clean, can be considered no at all. 

Film ini, sebagaimana novelnya, berpusat pada dua tokoh sentral, Bella Swan yang diperankan oleh Kristen Stewart dan Edward Cullen yang diperankan oleh Robert Pattinson. Pembuat film ini sepertinya jeli dalam memilih pemain, terutama aktornya jadi puja-pujaannya cewek-cewek sedunia. Tokoh yang hampir sempurna, meski bersosok vampire, tapi sejatinya baik dan superhero. Orang juga mesti akan bilang kalo ni tokoh bukan vampire, tapi superhero. Sementara ceweknya jadi sosok yang begitu spesial dan terlindungi oleh si superhero tersebut. Awal perkenalan kedua tokoh itu boleh dibilang aneh dan sedikit berkonflik, meski sama-sama sadar kalo di masing-masing ada saling ketertarikan. Di tambah lagi dengan isu di lingkungan mereka yang cenderung negatif tentang si cowok. Akhirnya, si cewek pun tahu kalo ni cowok ternyata vampire. “What if I’m not a hero. What if I am a bad guy?” “I know who you are” “Are you Afraid?” “I’m not afraid. I’m just afraid of losing you” Pertentangan inilah yang bikin menarik. Si cowok mengakui kalo dia tu bisa jadi jahat ke ni cewek. Selama ini dia bisa nahan untuk ga minum darah manusia dengan nyalurin ke darah binatang. Tapi pas ketemu ni cewek rasa haus itu malah muncul. Tapi ni cewek percaya ma tu cowok, yah karena sosok superheronya yang lebih dominan. Ditambah lagi nuansa romantisme di antara keduanya. Selain itu a good hero can not possibly be a bad vampire. Cerita kemudian di bumbui konflik dengan genre vampire lain yang membuat masalah dengan mengambil korban manusia. Dan kemudian bertemulah dengan genre vampire baik-baik versi ni cowok, yang jadi melibatkan si cewek juga. Terjadilah pertarungan antara keduanya. Lumayan seru juga setting pertarungannya. Ending yang lumayan dinanti sih soal apakah ni cowok bakal ngegigit ni cewek, so akhirnya menjadi vampire juga. Akhirnya sih ngga sampe kejadian. Yah, mungkin ini bagian dari strategi pengarang cerita supaya sekuelnya tetap menarik.

Secara keseluruhan film ini bagus, entertaining. Cerita yang pasti menarik. Pemilihan pemeran yang pas. Pengambilan gambar yang lumayan artistik, bisa mengeksplorasi keindahan alam. Tata suara juga lumayan, cuma soundtracknya hampir ga kedengaran insert di film. Pengennya sih denger tu Decode-nya Paramore, but still no problem. Adegan ala superhero dan pertarungan juga lumayan apik. Dan terakhir gimana tu cewek terjebak pertarungan, ampe harus terluka dan lumayan injured, juga bikin surprise. Awal-awal pemutaran film aga belum tune, mungkin karena masih tahapan pengenalan tokoh. Tapi setelahnya cerita bisa mengalir dengan apik n hampir ga ngebosenin. Mo dirating berapa ya. 4 dari 5 boleh lah.

26
Dec
08

Love S’il Vous Plait!

S’il vous plait adalah ungkapan yang lazim di gunakan ketika meminta atau mempersilahkan dalam bahasa Perancis, atau dalam bahasa Inggris dapat dipadankan dengan please. Nyambung dengan kata love, sekedar ingin menggambarkan bahwa cinta itu something that is more to give than to ask, and ajaibnya we will have the same in return even without ask. To please, and be pleased. Ini sih kira-kira apa yang tergambar dari film cinta remaja Lost in Love (2008) yang digarap oleh Rachmania Arunita, sutradara sekaligus penulis cerita. Tokoh utamanya Tita dan Adit, masing-masing diperankan oleh Pevita E.P. dan Richard Kevin, mengingatkan kita pada nama tokoh yang sama pada film Eiffel I’m in Love (2003). Ngga heran, karena ceritanya sama-sama ditulis oleh Rachmania. Dan bukan suatu kebetulan pula, kalau cerita di Lost in Love ini merupakan sekuel dari Eiffel I’m in Love.

Ceritanya seputar konflik cinta antara Tita dan Adit, yang sebenarnya lebih karena perbedaan sikap dan cara pandang. Sesuatu yang sebenarnya tidak bermaksud negatif, namun menjadi salah karena missunderstanding. Karakter Tita dan Adit masih sama dengan film sebelumnya, Tita dengan sifat kekanak-kanakan dan romantisnya, dan Adit dengan sifat serius dan kekakuaannya. Meskipun ide cerita terkesan dangkal, yakni tentang pengembaraan hilangnya Tita di kota Paris, tapi penggarapan script dan variasi cerita yang apik membuat film ini menjadi menghibur. Terlebih lagi dengan akting Tita dengan ekspresinya yang lucu atau dialog beda bahasa yang ga nyambung. Feel tentang cinta remaja itu sendiri tergarap dengan baik, mungkin karena empunya cerita juga belum jauh dari masa remajanya. Bagaimana cinta itu pada dasarnya ingin menyatu, meski kadang terekspresikan dalam sikap yang bikin menjauh. Namun sekali pengertian itu bisa didapat, meski mungkin harus lewat perantara, akhirnya semua jadi bisa menyenangkan, s’il vous plait. Cerita yang ringan dan menghibur, plus emosi cerita yang bisa sampai ke penonton. Hampir tidak ada inkontinuitas di film ini, hanya kerasa agak kurang beritme di awal cerita.

Ini film tergolong bagus setidaknya dari penggarapan cerita dan pengambilan gambar. Ikon kota Paris yang identik dengan suasana romantis, meskipun subyektif, bisa memberikan nuansa Love. Eksplorasi eksotisme kota Paris kalau mau sebenarnya masih bisa dioptimalkan. Latar musik dengan soundtrack dari Tangga juga termasuk bagus, cuma kerasa kurang terpadu atau perlu diperkaya lagi sehingga bisa lebih tune in ke scene. O ya, di FFI 2008 film ini mendapat dua nominasi yaitu pemeran utama wanita terbaik dan sutradara terbaik. Boleh deh ni film di kasih rating 4 dari 5.

16
Dec
08

Fiksi Preview: The Winner of FFI 2008

“saya mau minta maaf soal kemaren, saya ga tau apa yang ada di kepala saya” “maunya kamu tu apa sih?” “saya sayang kamu” cuplikan salah satu adegan dalam Fiksi, film pemenang FFI 2008. Kalau ngeliat trailernya sih film ini memang menarik: good scene, good take, good background music, good story, n good act. Ceritanya sih tentang seorang penulis and a kind of psycho girl. Ladya Cheryl is so gud here, real gud. But somehow kalah sama Fahrani in Radit & Jani.

Daftar Pemenang Piala Citra FFI 2008:

KATEGORI FILM CERITA BIOSKOP

FILM SECARA UTUH TERBAIK: Fiksi (PT. Surya Indrantara)
PENYUTRADARAAN TERBAIK: Mouly Surya (Fiksi)
SKENARIO CERITA ASLI: Joko Anwar/Mouly Surya (Fiksi)
SKENARIO CERITA ADAPTASI -
TATA SINEMATOGRAFI: Ical Tanjung (May)
TATA ARTISTIK: Budi Riyanto (Under the Tree)
PENYUNTINGAN: Yoga Krispatama (Claudia/Jasmine)
TATA SUARA: Satrio Budiono (May)
TATA MUSIK: Zeke Khaseli (Fiksi)
PEMERAN UTAMA PRIA: Vino G. Bastian (Radit & Jani)
PEMERAN UTAMA WANITA: Fahrani (Radit & Jani)
PEMERAN PENDUKUNG PRIA: Yoga Pratama (3 Doa 3 Cinta)
PEMERAN PENDUKUNG WANITA: Aryani Kriegenburg Willems (Under the Tree)

KATEGORI FILM PENDEK: Cheng Cheng Po (B.W Purbanegara)
Penghargaan Khusus Tematik: Nyawa-Nyawa Yang Mendamaikan(Robby Ertanto)
Penghargaan Khusus Animasi:  A Kite (K Deep Animation)
KATEGORI FILM DOKUMENTER: The Conductor (Andi Bachtiar Yusuf).
Penghargaan Khusus: Kepala Sekolahku Pemulung  (Jastis Arimba,Victor Benedict, Dolok Saribu)

01
Nov
08

Namaku Dick: Playboy Kena Barangnya!

Baru aja nyetel film “Namaku Dick”, yang dibintangin sama Tora Sudiro n Marissa Nasution. Genrenya senada dengan konotasi judul bagian belakang dan imajinasi poster, seks komedi. Meskipun bertema seks, boleh dibilang ni film clean dari unsur-unsur tersebut; hanya akting Tora ketika bermasalah dengan “Dick”-nya, istilah luar untuk “censored”-nya laki-laki atau di film ini diistilahkan “barang”. Ceritanya tentang pertualangan seorang laki-laki, Bama, diperankan Tora Sudiro, yang suka mempermainkan banyak perempuan. Hingga akhirnya sadar saat dia bertemu dengan cinta impiannya, yang diidam-idamkan sejak SD, Tiara, diperankan Marissa Nasution, masalah pun datang. Barangnya tiba-tiba bisa berbicara dan mengganggu aktivitasnya. Singkat cerita masalah tersebut hanya bisa hilang bila dia meminta maaf kepada perempuan-perempuan yang sudah disakitinya. Ternyata masalah itu juga tidak membuat dia makin dekat dengan cinta impiannya, walau akhirnya dia mendapatkan juga cinta itu.

Dari sisi cerita sangat sederhana, dan sepertinya ada film lain yang punya latar tema sama, dengan versi yang berbeda. Citra Tora sebagai aktor kawakan, spesialisasi komedi gak diraguin. Dan dukungan Marissa sebagai aktris utama wanita juga lumayan. Banyak hal-hal konyol yang terjadi, sehingga gelar film komedi untuk film ini memang bukan omong kosong. Film ini juga bukan film berat, jadi ga perlu mikir buat mencerna, dan spontan aja buat nangkep kelucuan yang ada di dalamnya. Sayangnya ada beberapa scene yang inkontinuiti, seperti saat pertama kali Bama mengalami masalah dengan barangnya, terlalu lama dan kurang greget take-nya, juga saat adegan berbicara serius. Asyik untuk diikuti dari awal sampai tengah, tapi di bagian belakang ritmenya jadi menurun dan agak kurang asyik buat diikutin. Sebenarnya sih bagus ada adegan serius, bisa menambah variasi tempo cerita. Cuma pengayaan skrip perlu lebih dipertajam, jadi tu adegan, baik komedi atau serius ga hambar. Secara keseluruhan, ratingnya 3 dari 5.

11
Oct
08

Badai Pasti Berlalu

“Kira-kira mereka tu berantem kenapa ya?”. “Kok kamu di sini?”. “Tempat ini kan bukan punya kamu, jadi siapa pun boleh kan ke sini. Jadi kira-kira mereka berantem kenapa donk?”. “Beberapa menit yang lalu si perempuan ngedapetin bahwa dirinya dipermainin sama si lelaki”. “Kamu tahu dari mana?”. “Mungkin aja si perempuan yang salah, dan sekarang dia nangis-nangis karena nyesel”. “Beberapa menit lagi mereka juga akan saling memaafkan, kalau mereka saling mencintai”. “Dan harusnya mereka ngga usah nunggu bertahun-tahun ya? Saya juga ga mau nunda lagi, sedetik pun”. “Untuk?”. “Melamar kamu”. Itulah cuplikan script di bagian akhir Film Badai Pasti Berlalu, antara tokoh utama Siska dan Leo, yang masing-masing diperankan oleh Raihaanun dan Vino G Bastian. Film garapan Teddy Soeriaatmadja ini bukan film baru, keluaran tahun 2007. Karena belum pernah menonton langsung, saya memutarnya di media digital. Tergolong film terpuji, bila tidak ingin menggunakan istilah bagus, makanya saya angkat dalam referensi kali ini. Badai Pasti Berlalu, semua pasti ingat kalau yang pernah mendengar, bahwa ini merupakan judul lagu yang dipopulerkan oleh Chrisye. Senada dengan judul fim, lagu tersebut dijadikan soundtrack utama film ini, hanya saja kali ini dibawakan oleh Ari Lasso.

Film ini bercerita tentang kehidupan tentang cinta, lebih spesifik tentang pengkhianatan cinta, sakit hati, dan waktu yang berharga yang bisa sadarkan bahwa cinta yang ada saat ini tidak seharusnya disia-siakan, hingga tak perlu sesal dan terperangkap dalam cinta yang tak nyata. Karena itu lah film ini punya cerita (it has a story), hal penting yang bikin film punya makna atau tidak. Diawali dengan sakit hati, karena pengkhianatan yang dialami oleh tokoh utama wanita, yang membuat dirinya menjadi antipati dan lebih suka menyendiri. Hingga akhirnya datang si tokoh utama pria, yang untuk bisa masuk ke kehidupan si wanita, itu pun harus berpura-pura bahwa dirinya juga sedang sakit hati, dengan bantuan kakak si wanita. Akhirnya si wanita pun terbawa dalam rasa kepada si pria. Namun karena mendengar bahwa dibalik semua itu, dirinya menjadi bahan permainan si pria dengan teman-temannya, dia menjadi tambah sakit hati dan pergi. Si pria sebenarnya tidak bermaksud demikian, karena permainan yang dimaksud dengan teman-temannya itu tidaklah serius, yang serius bahwa ia benar-benar mencintai si wanita, hingga ingin menikahinya. Namun penjelasan dan niatnya tidak didengar oleh si wanita. Waktu pun berlalu, hingga si wanita bertemu pria lain, dan kembali jatuh hati. Namun ia jatuh pada pria yang salah, karena mempunyai niat yang tidak baik. Namun terlambat, ia terlanjur terjebak dalam permainan si pria lain tersebut, dan terpaksa menikahinya. Kehidupan yang dialaminya tidaklah bahagia, harus memendam rasa sakit hati. Hingga akhirnya, mereka pun bercerai. Jalan kehidupan kembali pertemukan si tokoh utama pria dan tokoh utama wanita. Mereka akhirnya bisa bersama, meski mungkin seharusnya tidak perlu menunggu hingga sekian lama, dan mengalami rasa sesal yang sedemikian. Kalau mendengar skenario cerita mungkin terdengar klise. Saya sempet pesimis ketika awal memutar film ini, namun begitu masuk semuanya mengalir dan rasa yang ada menjadi hidup, tak terasa terus mengikuti hingga akhir.

Untuk akting tokoh-tokoh dalam film ini, pemeran utama tergolong cukup baik. Untuk pemeran pembantu, ada beberapa pemain pendukung, yang secara pencitraan kurang begitu bagus, dalam pengertian asosiasi dengan komedi, tapi masih dapat ditoleransi. Yang hebat mungkin kehadiran aktor senior Slamet Rahardjo sebagai pemeran pembantu, yang aktingnya tidak diragukan lagi. Alur cerita, boleh dibilang baik, hampir tidak ada diskontinuitas. Penting, agar penonton tidak sampai merasa bosan, dan dapat terus menikmati cerita hingga akhir. Pengambilan gambar juga tergolong bagus, beberapa bisa dikategorikan artistik, dan dengan sudut pandang yang tepat. Secara keseluruhan, film ini boleh mendapatkan skor 4 dari 5.

04
Aug
08

Ini Buat Loe

Ohmygod Ini Buat Loe, sepertinya lebih tepat untuk judul film ini, ketimbang Oh My God. Film yang dibintangi Ringgo (Margo), Desta (Ipin), n Revalina (Tiara) ini bertutur tentang cinta yang hidup dan tumbuh di hati seorang pria, meskipun ia sempat terabaikan oleh sang wanita, namun dengan upaya dan kesempatan yang datang, ia bisa mendapatkan balas atas cintanya. Semata karena apa yang ia lakukan ini buat loe.

Pas dateng ke Detos 21 minggu sore ini, pilihan awalnya mau nonton Batman. Tapi timbang-timbang waktu yang ga pas, akhirnya pilih nonton Oh My God. Lagi-lagi poster film yang kurang menggambarkan apa isi film, bikin kita jadi mereka-reka what the story is. Citra Ringgo yang melekat nyeleneh dengan film genre seks komedi, bikin kesan, is it another sex comedy of Ringgo. Palagi ngeliat ada Maia di film, not so interested, and the act IMO bad. Cuma Revalina saja yang bikin film ini jadi menggelitik untuk ditonton. Timbang-timbang, lama ga nonton film Indonesia, yang belakangan agak2 gak asyik, well akhirnya coba saja nonton ni film.

Pas awal ngeliat, sempet mikir what sex slapstick gonna show up, and actually there no at all. Film ini boleh dikategorikan sebagai drama komedi, atau komedi saja. Tokoh utama yang tampil, justru sosok Desta dan Revalina, sedang Ringgo berperan sebagai pacar dari Revalina. Sosok Ipin yang sederhana atau boleh dibilang kampungan berhadapan dengan Tiara dan Margo yang berada, dengan genk populernya. Tiara yang mencalonkan sebagai ketua OSIS akhirnya berhadapan dengan Ipin yang mencalonkan juga. Karena kehilangan popularitasnya, Tiara akhirnya menjadi tertarik pada Ipin. Setelah jalan dan lebih dekat, akhirnya Tiara pun jatuh hati. Cerita juga tentang pertentangan gank populer vs anti populer, di sekitaran pemilihan ketua OSIS, dan keunikan emak Ipin dengan tingkah polahnya.

Cerita lumayan mengalir, dan kelucuan-kelucuan yang ada boleh dibilang orisinal dan spontan, bahkan bisa bikin penonton ngga jaim buat tertawa terpingkal-pingkal. Best laugh scene maybe saat Ipin ketauan kalo umurnya 22 n adegan pertarungan dukun vs emak Ipin yang jadi musik ala senam pagi. Meskipun komedi, ada sisi yang touchy juga. Kelebihan film ini adalah gambaran kehidupan yang realistis, terlihat pengambilan gambar dan penggarapan cerita. Overall rate it 5 out of 5.




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.