Archive for the 'Books' Category

25
Jan
09

Aku Adalah Chairil Anwar

Chairil Anwar - Aku Ini Binatang JalangSiapa yang tidak kenal Chairil Anwar, minimal lewat puisi legendarisnya berjudul “Aku”, “Diponegoro”, atau “Krawang Bekasi”; yang disebut terakhir merupakan puisi saduran. Sejak di bangku SD pun kita sudah dikenalkan dengan sosok Chairil Anwar dengan karyanya itu. Sisi yang terlihat adalah sebuah karya yang menyuarakan perjuangan. Memang benar aura yang tampil dari puisi Chairil Anwar dari tiga karyanya yang populer itu memang bertema perjuangan. Namun kalau ditilik secara lengkap, puisi Chairil Anwar tidak sekedar bertema perjuangan, tapi juga bertema lain seperti Ke-Tuhan-an, kehidupan, dan cinta. Bahkan boleh dibilang, puisi Charil Anwar lebih banyak bicara tentang kehidupan dan cinta.

Buku yang memuat cukup lengkap semua puisi Chairil Anwar adalah “Aku Ini Binatang Jalang” yang diterbitkan oleh Gramedia (1986). Dikatakan lengkap, karena mengumpulkan seluruh karya Chairil Anwar yang tersebar pada beberapa buku atau majalah. Uniknya lagi di buku ini juga dimuat korespondensi Chairil Anwar ke H. B. Jassin.

O ya, saya jadi tertarik membeli buku ini, salah satunya karena film “Ada Apa Dengan Cinta” yang menampilkan Rangga yang menenteng buku berjudul “Aku”. Hingga tertarik untuk tahu lebih jauh mengenai karya-karya Chairil Anwar. Buku “Aku” ini berbeda dengan buku kumpulan puisi yang disebut sebelumnya. Yang disebut terakhir semacam biografi dari Chairil Anwar yang ditulis oleh Sjuman Jaya, terbitan Metafhor Publishing (2003). Termasuk menarik untuk dibaca, karena menceritakan perjalanan hidup dari sang pujangga legendaris ini. Tapi jangan harap untuk menemukan puisi-puisi lengkap Chairil Anwar. Untuk yang lengkap silahkan baca buku yang saya sebut pertama tadi.

Hal yang khas dari puisi-puisi Chairil Anwar adalah bahasanya yang lugas, bahkan dalam bahasa pengandaian atau metafor pun juga menggunakan pengandaian yang lugas. Hal ini membuat puisi Chairil Anwar secara umum lebih mengena dan mudah dipahami, tanpa harus membuat pembaca memutar otak untuk mencari arti dari sebuah rangkaian kata. Meskipun lugas, karya Chairil Anwar tidak kehilangan esensinya sebagai sebuah karya sastra, karena kita tetap dapat merasakan kuatnya diksi atau keindahan dari sebuah puisi. O ya, dibuku kumpulan puisi itu, kita akan menemukan satu puisi dengan beberapa versi. Hal ini tidak perlu dipertentangkan, karena sudah menjadi hal yang maklum, terutama bagi yang biasa menulis puisi. Penulisan merupakan sebuah proses yang kadangkala membuat sang penulis merubah kata-kata yang ada guna mencari diksi atau pilihan kata yang dirasa lebih tepat atau nyaman menggambarkan apa yang ingin diungkapkan. Kalau boleh dibilang, versi terakhir yang ditulislah yang menjadi versi final.

Sedikit mengutip karya Bung Chairil, “Kalau sampai waktuku, ku mau tak seorang ‘kan merayu, tidak juga kau.”

05
Aug
08

Really Complicated, PW in Jilid Dua

Mala Menyambung tetralogi dangdut pertama yang berjudul Nora, di buku kedua Putu Wijaya (PW) mengambil judul Mala. Senada dengan judul pertama, yang justru tidak mengangkat tokoh judul sebagai sentra cerita, di buku kedua pun demikian. Tokoh Mala malah condong minor, berganti ke sentra tokoh lain, rekan kerja Mala yang kini menggantikan posisinya di kantor setelah ia sendiri masuk penjara.

Cerita yang diambil memang merupakan sekuel dari buku pertama, tapi alih-alih menyambung kisah hidup Mala, malah menonjolkan cerita tokoh lain di atas. Hanya di bagian akhir, ada cerita tentang Nora. Pada buku kedua ini, Mala diberitakan bebas. Muncullah kegaduhan di kantor Mala yang notabene merupakan media massa. Pertentangan antara memutihkan kembali nama Mala atau menenggelamkannya saja. Di sinilah tokoh lain tersebut diangkat, gambaran mengenai idealisme yang dikalahkan kemapanan hidup. Bayang-bayang Mala seakan menghantui orang-orang penting di kantor, seakan akan mendapatkan balas dendam. Cerita kemudian beralih ke sosok Nora, yang akhirnya benar-benar kawin lagi, tinggal di tempat yang tidak jelas, dan terbawa ke jaringan PSK. Ada juga intrik hubungan sesama jenis, dan pembunuhan sadis, yang sangat tidak mengenakkan untuk dibaca. Di bagian akhir, tiba-tiba saja Mala diceritakan tewas bunuh diri, akhir cerita yang dimaksudkan dramatis, malah terkesan memaksa, kalau tidak terkesan aneh tiba-tiba. Sepintas ada kesan PW ingin mengangkat realitas terkini kejadian di masyarakat kita, terlihat dari beberapa insert-insert cerita yang ada. Semacam kritik sosial atau sekedar mendokumentasikan dalam cerita.

Njelimet, itulah kesan yang tertangkap dari buku ini. Buku pertama sudah berkesan seperti itu juga, tapi masih ada bagian yang enjoy untuk dinikmati. Tapi buku kedua ini bener-bener njelimet, susah dimengerti. Ketimbang menyebutnya sebagai buku berat, saya lebih suka menyebutnya sebagai buku abstrak. Sesuai tag pada covernya sebagai bacaan dewasa, memang demikianlah adanya, ada beberapa bagian cerita berkenaan dengan aktivitas atau imajinasi seks. Kalau pun nanti ada buku ketiga dari tetralogi dangdut ini, i think i’d say no to buy it, bacaan njelimet not so relax to enjoy.

10
Jun
08

It’s More Than Ayat-ayat Cinta, Surely Is!

Kcb2 Siapa yang tidak kenal dengan Kang Abik, panggilan akrab untuk Habiburrahman El Shirazy, dengan karyanya yang fenomenal, novel Ayat-ayat Cinta, yang menjadi best seller, hingga versi layar lebarnya. Karya lainnya yang termasuk baik adalah Ketika Cinta Bertasbih jilid dua.

Kenapa disebut jilid duanya saja? Ini karena novel yang teridiri dari dua jilid ini baru terasa bagus dan enak dinikmati pada jilid duanya. Sedang pada jilid satu sebagaimana telah dibahas sebelumnya, terkategori cukup baik saja, karena agak terjebak dalam dakwah eksplisit, yang membuat novel ini menjadi kehilangan esensinya sebagai novel.

Untuk membaca jilid dua ini saja, sempat malas untuk meneruskan membaca begitu merasa hilangnya enjoyment of novel reading dari jilid satu. Tapi ketika iseng untuk buka-buka jilid dua, begitu masuk bab pertama langsung kerasa kalo Kang Abik mulai kembali ke jalurnya. Pesan bisa disampaikan secara implisit dalam novel melalui dialog-dialog yang cerdas, tanpa menggurui, tapi menjadi bagian dari alur cerita.

Bila dibandingkan dengan AAC, penampilan tokoh dan ceritanya lebih baik. Ketimbang tokoh Fahri AAC yang terasa begitu perfeksionis nyaris tanpa hal minor, tokoh Khairul KCB terasa lebih nyata, dengan latar sebagai pemuda dari keluarga yang biasa-biasa saja, pekerja keras, dan masih punya emosi yang bisa keluar dari manusia biasa.

Variabilitas cerita juga lebih beragam, tanpa harus menjadi kehilangan alur cerita. Esensi cerita dari KCB, bila pada jilid satu mengangkat etos kerja dan perjuangan seorang mahasiswa Indonesia dalam menyelesaikan studi di Mesir sekaligus membiayai keluarga di Indonesia. Pada jilid dua bertutur mengenai pengukuhan pencaharian hidup dan pencarian pasangan hidup. Terpujinya cerita karena tidak bicara mengenai kesempurnaan tetapi bagaimana sisi ketidaksempurnaan dapat muncul dan bagaimana menyikapinya.

Novel jilid dua ini layak pula disebut sebagai novel entrepreneur, karena menyuarakan spirit bagaimana kewirausahaan dibangun, bukan sekedar kemauan dan etos kerja tapi juga smartness.

Kalau mau dirating, KCB jilid dua atau disebut buku dua oleh sang pengarang layak dinilai 5 dari 5.

Sebagai penutup, untuk diangkat ke layar lebar KCB juga berpotensi untuk jadi box office, dengan syarat tidak dipaksakan dalam satu episode dengan porsi yang sama dari dua jilid novel ini. Akan lebih baik, sedikit preview dari cerita novel jilid satu dan lebih banyak untuk mengangkat cerita jilid dua!

02
Feb
08

Ketika Cinta Bertasbih: Terjebak Dalam Sajian Dakwah Eksplisit

KetikacintabertasbihSetelah Ayat-ayat Cinta yang menjadi novel religi fenomenal, Habiburrahman El Shirazy atau akrab dikenal Kang Abik, hadir dengan karya lainnya, Ketika Cinta Bertasbih (Dwilogi Pembangun Jiwa), terbit pertama kali pada Februari 2007.

Nuansa religi masih menjadi ruh dari novelnya kali ini. Namun berbeda dangan Ayat-ayat Cinta yg berhasil memasukkan nilai-nilai dakwah secara implisit, sehingga novel tidak kehilangan identitasnya sebagai novel. Dalam Ketika Cinta Bertasbih, pengarang seperti terjebak dalam sajian dakwah, terlalu eksplisit dalam menyampaikan maksud dakwah, sehingga novel ini seolah menjadi kehilangan identitasnya sebagai novel. Untungnya hal ini tidak terjadi berkelanjutan, karena pada bagian tengah ke akhir menjadi nyaman kembali untuk diikuti, novel yang sesungguhnya.

Cerita novel ini menampilkan sosok sentral seorang lelaki yang sedang mengambil studi S1 di Kairo, tidak kunjung menyelesaikan studinya hingga tahun ke-9, karena keadaan yang memaksanya berwirausaha dan tidak dapat berkonsentrasi penuh pada studinya. Meskipun mempunyai tokoh sentral, cerita dalam novel ini menampilkan beberapa tokoh, agak tidak terfokus dan membuat alur cerita seperti melompat-lompat. Beberapa konflik cinta, perasaan yang hadir antara beberapa pihak menjadi bumbu yang menarik, karena coba disajikan bagaimana sudut pandang Islam menghadapi masalah-masalah yang hadir. Akhir cerita sang tokoh sentral berhasil menyelesaikan studinya, keputusan yang diambil setelah ia tahu bahwa beban yang ia pikul demi keluarganya di Indonesia telah dapat ia lepaskan. Cerita masih berlanjut ke jilid dua, sesuai sub judul novel sebagai dwilogi, penyelesaian pencarian pendamping hidup sang tokoh.

Ada satu pesan menarik yang disampaikan dalam novel ini, mengenai cinta yang hakiki, bahwasanya cinta tertinggi itu adalah cinta pada Sang Pencipta, yang seharusnya membuat manusia tersadar untuk tidak terjajah oleh cinta yang lainnya.

25
Jan
08

Nora: Abstraksisme Seks atau Konflik Pikiran Ala Putu Wijaya?

NoraputuwijayaIni novel kedua karya Putu Wijaya yang saya baca, sebelumnya yaitu ‘Puteri’ jilid 1, tidak selesai karena belum baca lanjutannya di jilid 2. ‘Nora’ jilid 1, lagi-lagi novel terbaru karya PW yang terbit November 2007 ini, hadir lebih dari satu jilid, mungkin empat jilid kalo dilihat dari sub judul Tetralogi Dangdut. Tertarik untuk membeli setelah membaca ulasannya di Kompas, sub judul yang provokatif, dan keingintahuan akan karya lain PW.

Sesuai karakteristik karya PW seperti yang terlihat pada ‘Puteri’ menampilkan konflik-konflik manusia dengan bumbu latar sosial politik. Bila dalam novel ‘Puteri’ penyajian cerita meskipun sedikit njelimet namun masih terasa realis. Maka dalam novel ‘Nora’ terbitan Kompas, yang diberi label Bacaan Khusus Dewasa, penyajian cerita sangat abstrak, sehingga membuat novel ini sangat berat. Sulit untuk memahami latar cerita yang tidak sesuai kelaziman umum, seperti gambaran cerita di awal soal perkawinan tak terduga, tidak jelas motif keluarga si gadis, atau motif si pria yang sebenarnya, yang malahan dipersepsikan sebagai kegilaan eksperimental dari masing-masing pihak. Sebagian besar isi cerita berupa pertarungan pikiran baik dalam diri sendiri sang tokoh atau pun perang dengan pikiran tokoh lain. Terkait dengan label Bacaan Khusus Dewasa, boleh dibilang novel ini sebagai abstraksisme seks. Tidak terlalu mengganggu atau bervulgar ria bahasa yang digunakan, sehingga sebenarnya tidak perlu diberi label sedemikian itu.
Bumbu latar sosial politik juga hadir dalam novel ini, dengan munculnya tokoh yang terkait isu politik tertentu, atau pun sindiran-sindiran tertentu.

Ada sedikit kelemahan mendasar yang agak mengganggu, entah kesengajaan PW atau proses edit yang tidak sempurna. Setidaknya ada dua bagian dimana script cerita berulang kembali, dan itu bukan flahback.

Meskipun judul Novel ini ‘Nora’, tokoh utama yang sebenarnya bernama Mala, seorang pria yang menempati posisi yang terbilang sukses di suatu media massa. Nora, juga tokoh utama, tapi lebih layak disebut sebagai tokoh utama pendamping, digambarkan sebagai gadis yang sangat terbelakang, atau tepatnya tertekan di keluarganya, terlihat agak bodoh, tidak paham hukum perkawinan, dan terlalu menurut pada keluarganya. Inti cerita diawali kejadian yang tabu saat Nora melihat sesuatu yang tidak seharusnya saat Mala buang air kecil di rerimbunan pohon belakang rumah. Berlanjut dengan perkawinan dadakan karena tuntutan orang tua Nora yang menyebut Nora hamil. Meskipun tidak pernah melakukan hal apa pun pada Nora, Mala menerima permintaan itu. Cerita berlanjut dengan tingkah laku keluarga Nora yang seakan tidak menganggap keberadaan Mala, kecuali gajinya saja. Tambah aneh saat si keluarga itu minta persetujuan Mala untuk mengizinkan Nora menikah lagi. Hal ini membuat Mala menjadi berang bukan kepalang, dan memutuskan untuk tidak peduli lagi pada si keluarga. Tapi pada Norma, Mala tidak bisa melepaskan perhatiannya, meski pada awalnya ia merasa bahwa penerimaannya untuk perkawinan dulu karena bereksperimen, namun akhirnya ia sadari semua itu ia lakukan karena sebenarnya ada rasa sayang pada Nora. Konflik berlanjut dengan drama politik, saat Mala terjebak dalam skenario politik yang menyudutkan dirinya dalam ancaman jeruji dan perubahan sikap sahabat yang tiba-tiba menjadi lawan. Ia sendiri tidak tahu dengan pasti siapa dalang di balik semuanya. Cerita berikutnya berlanjut di jilid dua..

29
Dec
07

Ayat-ayat Cinta: The Novel

Ayatayat_cinta_novelFirst to know bout the book couple months ago, as referenced by friends or saw it in best seller shell in the book store, still i was not interested. It just because i thought it’s a serious book – non fiction, a guidance – religion one, that i already had few titles bout the subject that i no need another one recent.

But now, when see that ‘Ayat-ayat Cinta’ goes to movie, i become curious bout what this book actually is. And then i smile, it’s a novel. No wonder it become a movie now.

This book is really fantastic, although it’s filled with so many ‘dakwah’ messages, it doesn’t lose its originality as a novel. It can be view as contra mainstream against some contemporary novel such as ayu utami one that exploits vulgarity. But not to contra with teenlit as it’s neutrality or just not to be compared.

The writer so smart to make the reader of the book to be touched with the story and get emotioned as if they are in the story. No wonder it become best seller and now get movied. Taken the setting of Egypt, the story is about indonesian student who took master degree in Kairo. He got into complicated love situation with four girls. Get married with a Germany-Turkey girl, but then get letter from Indonesian girl that he admired told that she loved him. Another one, a Kairo girl that happened to be his good neighbour, fell in love with him. Last, another Kairo girl that he helped from her family’s rudeness. He managed this conflict using Islamic values that always hold no matter happened, even when his life is being threatened. The end of the story may not a good ending, but still can make the reader smile bout what is life all about, to Whom it should be dedicated.

There’s some things not comfortable in this novel in my view, but consider it minor. First, bout the footnote, although it’s an explanation bout the foreign terms used, still it looked like a non fiction. Better the meaning included inline with the text. Then bout the way the main figure, the man seemed to be mr perfect, so busy. Just curious, do one have to be so heavy scheduled that he can’t loosen it just to make a call or others. Next one bout the reason of the Kairo girl to bring him to jail not so reasoned enough. Last, related to his heavy scheduled, so ridicolous that he can’t have time to meet someone or that someone to call or message him, then become too late to know that the Indonesian girl love him. Well it’s all part of the story, so it’s intended to be.

Overall, it’s a good book, consider it fulfil two things: as a novel and the values it brings. Bout the movie, it’s a challenge for the director to get the atmosphere into life. Let’s see later, would it be box office in real term, not just because the book is best seller.

16
Nov
07

Uni Eropa: Menuju Sebuah ”Negara” Atau Sekedar Integrasi Ekonomi?

Europeanintegrationbook Uni Eropa, sebuah topik yang menarik bagi negara-negara di kawasan mana pun untuk menjadi contoh atau rujukan bagaimana integrasi ekonomi negara-negara dalam satu kawasan bisa berlangsung dengan baik. Namun apakah integrasi tersebut memang berjalan dengan baik? Dan apakah integrasi tersebut tidak menuju ke pembentukan sebuah ”negara”, terlebih dengan munculnya Parlemen Uni Eropa dan Kementrian Uni Eropa? Pertanyaan-pertanyaan tersebut hanya bisa dijawab bila kita mengikuti perkembangan Uni Eropa sejak pasca perang dunia kedua hingga saat ini. Namun bagi kita yang tidak dapat mengikuti perkembangan tersebut, tidak berarti kita tidak bisa mendapatkan cerita mengenai sejarah dan perkembangan Uni Eropa. Buku “The Economics of European Integration: 2nd Edition” karangan Richard Baldwin dan Charles Wyplosz yang diterbitkan oleh McGraw Hill bisa menjadi salah satu rujukan untuk mendapatkan pengetahuan tentang hal tersebut.

Buku setebal lebih dari 455 halaman ini bukanlah buku populer yang menjadi bacaan ringan, namun merupakan sebuah buku teks perkuliahan dengan penekanan pada ilmu ekonomi tepatnya kajian ilmu ekonomi integrasi Uni Eropa. Sebagai konsekuensinya, menjadi relatif berat untuk dibaca oleh orang awam. Namun demikian, orang awam tetap dapat membaca buku ini dan mendapatkan gambaran mengenai Uni Eropa, terutama dengan membaca kotak artikel, namun terpaksa harus melewatkan kajian dari sisi ilmu ekonominya dan kehilangan gambaran utuh. Sedangkan bagi mahasiswa atau pembaca yang mempunyai latar belakang ekonomi, buku ini menjadi sangat menarik karena perkembangan Uni Eropa yang dibahas disandingkan dengan penjelasan dari sisi kajian ilmu ekonomi. Hanya saja kajian ilmu ekonomi yang dipaparkan masih bersifat dasar dan berdasarkan pada asumsi penyederhanaan tertentu. Sehingga untuk mendapatkan kajian yang lebih mendalam perlu membaca buku yang lebih mahir, atau melakukan riset sendiri.

Pengorganisasian buku ini terdiri dari 5 (lima) bagian dan total 19 bab, yaitu: Sejarah, Fakta, dan Kelembagaan (3 bab), Kajian Ilmu Ekonomi Integrasi Ekonomi (5 bab), Kebijakan Uni Eropa (4 bab), Integrasi Moneter: Sejarah dan Prinsip-prinsip (3 bab), dan Kebijakan Moneter dan Fiskal Uni Eropa (4 bab). Secara keseluruhan pengorganisasian buku ini baik dan dapat memberikan alur pengetahuan yang sistematis, dimulai dari sejarah, kemudian kajian ilmu ekonomi, dan perkembangan ekonomi Uni Eropa.

Berdasarkan sejarah yang dipaparkan, meskipun Uni Eropa lebih dititikberatkan pada kerja sama ekonomi, namun integrasi yang terjadi selalu dilatarbelakangi oleh faktor politik, dari keinginan untuk menghindari terjadinya kembali perang Eropa, hingga keinginan untuk memperluas integrasi ke negara demokrasi baru di Eropa Tengah dan Timur. Meskipun tujuannya bersifat politis, namun alat yang digunakan selalu ekonomi. Yang menarik adalah bahwa Uni Eropa pada awalnya bukan merupakan satu blok ekonomi, namun berasal dari dua blok ekonomi yaitu European Economic Community (EEC) dan European Free Trade Association (EFTA), namun dengan berjalannya waktu secara alami melebur menjadi satu blok ekonomi. Terdapat tiga hal penting yang terjadi dalam perkembangan integrasi ekonomi:
(1) Pembentukan Customs Union / Blok Ekonomi dari tahun 1958 s.d. 1968 yang menghilangkan tarif dan kuota dalam perdagangan intra Uni Eropa.
(2) Program satu pasar antara tahun 1986 s.d. 1992 menghilangkan hambatan non-tarif dan meliberalisasikan aliran modal dalam Uni Eropa.
(3) Penyatuan ekonomi dan moneter dengan meleburkan hampir seluruh mata uang anggota Uni Eropa.
Sejarah yang dipaparkan meskipun tidak dapat mencakup seluruh kejadian yang memang sangat panjang dalam rentang waktu 50 tahun, namun dapat memberikan gambaran yang menarik atas pasang surutnya integrasi Uni Eropa, termasuk tarik menarik kepentingan atau ego politik dalam negeri beberapa negara anggota, dengan tambahan ilustrasi pada kotak artikel.

Bagian selanjutnya memaparkan teori-teori ekonomi mikro terkait integrasi ekonomi. Beberapa di antaranya yaitu mulai dari diagram sederhana penawaran permintaan, analisa penawaran permintaan ekonomi terbuka, analisa proteksi ekonomi, analisa blok ekonomi, efek besaran dan skala pasar, efek pertumbuhan dan integrasi pasar faktor produksi, hingga analisa integrasi pasar tenaga kerja dan migrasi. Seperti diungkapkan di awal, teori ekonomi yang dipaparkan menggunakan asumsi penyederhaan tertentu. Seperti pada saat menerangkan alat analisa kebijakan perdagangan, yang mengasumsikan tidak adanya persaingan tak sempurna dan tidak adanya skala ekonomi. Dua diagram terpenting terkait hal ini yaitu diagram penawaran permintaan ekonomi terbuka dan diagram MD-MS, yang memungkinkan kita untuk mengidentifikasikan pengaruh proteksi impor pada konsumen domestik, produsen domestik, dan penghasilan domestik, termasuk pula harga, kuantitas, dan kesejahteraan domestik dan negara luar. Hal yang menarik dari analisa blok ekonomi adalah adanya kecendrungan lebih rendahnya harga domestik dan meningkatnya impor keseluruhan, namun juga menimbukan adanya pergeseran penawaran, yaitu dari pemasok non anggota blok ekonomi ke pemasok anggota blok ekonomi. Hal ini memberikan pula pasar yang lebih besar bagi perusahaan-perusahaan anggota blok ekonomi, dengan semakin besarnya pasar ”domestik”, yang sekaligus menimbulkan persaingan antar perusahaan anggota blok ekonomi dengan tereliminasinya perusahaan-perusahaan yang kurang efisien sebagai bagian restrukturisasi industri di blok ekonomi. Dari faktor produksi yang ada, nampaknya pasar tenaga kerja merupakan pasar yang tidak mudah untuk diintegrasikan atau cenderung tidak fleksibel. Hal ini terkait kekuatan serikat buruh dan informasi asimetris dalam penentuan upah. Masalah migrasi pun juga cukup kontroversial, meskipun dapat mengefisiensikan ekonomi dan memeratakan kesejahteraan, namun terkendala tekanan dalam hal tenaga kerja tidak terlatih dan rigiditas pasar tenaga kerja itu sendiri.

Uni Eropa mempunyai kebijakan yang ketat dalam proteksi sektor pertanian, dengan menetapkan batasan (CAP) yang membuat hasil pertanian yang akan masuk ke negara anggota menjadi lebih mahal dari harga domestik. Yang menarik adalah dengan berkembangnya teknologi pertanian, Uni Eropa bergeser dari importer menjadi eksporter hasil pertanian. Dalam kondisi ini pun Uni Eropa tetap mempertahankan kebijakan CAP-nya, bahkan menjadi dilema saat harus menyerap kelebihan produksi domestik dalam rangka mempertahankan standard harga. Kebijakan pertanian merupakan kebijakan yang paling banyak menghabiskan anggaran Uni Eropa dan menjadi isu yang penting terkait distribusi yang adil. Kebijakan blok ekonomi membuat pasar ”domestik” menjadi lebih besar dan sekaligus menimbulkan persaingan yang mengeliminasi perusahaan yang tidak efisien. Terkait eliminasi perusahaan yang tidak efisien, memunculkan ego nasional anggota blok ekonomi untuk mempertahankan perusahaan nasional dengan memberikan bantuan yang menimbulkan bias terhadap kebijakan blok ekonomi itu sendiri. Untuk menghindarkan bias ini, Uni Eropa menerapkan batasan-batasan sejauh mana bantuan tersebut diperbolehkan. Dalam perdagangan luar negeri, Komisi Eropa merupakan badan yang berhak untuk melakukan negosiasi perdagangan dengan negara-negara di luar Uni Eropa sesuai mandat dari Kementrian Uni Eropa. Tarif eksternal (CET) yang ditetapkan Uni Eropa pada umumnya rendah, namun perhitungan pada sektor pertanian empat kali lebih besar dari sektor industri.

Buku ini mengemukakan pula sejarah berkembangnya uang dari uang logam hingga uang kertas. Standard emas yang pernah berlaku di banyak negara ternyata merupakan model yang mendekati sistem kesatuan moneter (Euro). Menyimak pelajaran dari kekisruhan standard emas dan uang kert
as, penerapan sistem Bretton Woods memunculkan USD sebagai standard baru moneter dunia. Teori mengenai pilihan rezim nilai tukar juga menjadi bahasan, dengan berbagai variasi penerapan pada banyak negara. Pada kubu ekstrem, bila suatu negara memilih rezim nilai tukar tetap maka kebijakan moneter tidak dapat berlaku, sedangkan bila memilih rezim nilai tukar bebas maka kebijakan moneter menjadi efektif. Tidak ada kebijakan yang paling baik, pemilihan rezim nilai tukar tergantung kondisi dan pilihan yang diambil masing-masing negara. Dalam jangka pendek, uang tidak bersifat netral dan mempengaruhi ekonomi riil, namun dalam jangka panjang uang bersifat netral dan tidak mempengaruhi ekonomi riil; efeknya hanya menentukan laju inflasi. Sebagai reaksi atas dominasi USD dan pengaruhnya terhadap kestabilan nilai mata uang, negara-negara Uni Eropa berusaha menciptakan suatu sistem yang dapat menjamin kestabilan mata uang mereka. Diawali dengan kegagalan penerapan sistem awal, secara bertahap negara-negara anggota menyandarkan mata uangnya ke Deutschmark – sebagai mata uang paling stabil di Eropa, merupakan sebuah langkah menuju kesatuan moneter Eropa.

Bagian akhir buku ini mengungkapkan mengenai integrasi moneter dan kebijakan fiskal. Karena alasan tertentu, tidak semua negara anggota mengganti mata uang negaranya dengan Euro, beberapa karena pilihannya sendiri, sedang yang lain karena belum memenuhi persyaratan. Untuk mengadopsi mata uang tunggal diperlukan prasyarat yang secara teori disebut sebagai Teori Area Optimum Mata Uang (OCA Theory). Penerapan mata uang tunggal bukanlah merupakan awal, tetapi sebuah akhir dari proses konvergensi, yakni kemampuan negara-negara anggota untuk mencapai kestabilan harga dan kedisiplinan untuk menjaganya. Selain inflasi yang rendah, juga diperlukan prasyarat suku bunga jangka panjang yang rendah, keanggotaan dalam Mekanisme Nilai Tukar (ERM), defisit anggaran yang rendah, dan hutang yang menurun. Meskipun semua negara mengarah untuk menyatu dalam mata uang Euro, Denmark dan Inggris memilih untuk mempertahankan mata uang negara mereka. Penyatuan moneter memberikan pendelegasian kebijakan moneter dalam satu otoritas Bank Sentral Eropa (ECB). Meskipun demikian, keberadaan bank sentral di masing-masing negara tetap dipertahankan. Sistem Euro secara konstitusi memperoleh independensi yang tinggi baik dalam menentukan target dan kebijakan moneter yang diambil, yang mengarah pada satu tujuan kestabilan harga. Meskipun mendapat beberapa goncangan pada tahun pertama penerapannya, ECB berhasil menjaga laju inflasi mendekati 2%. Hilangnya kebijakan moneter nasional, menyisakan kebijakan fiskal sebagai satu-satunya instrumen makro ekonomi yang dapat digunakan masing-masing negara anggota. Karena kebijakan fiskal yang diambil suatu negara dapat berpengaruh pada negara anggota lain maka dilakukan pengaturan Fakta Stabilitas dan Pertumbuhan (SGP), diantaranya yaitu defisit tidak boleh lebih dari 3% dari GDP.

Melihat perkembangan yang ada, seolah-olah Uni Eropa mengarah pada sebuah ”negara”, namun buku ini menegaskan bahwa hal itu tidak terjadi, bahkan sebagai negara federal pun tidak. Uni Eropa lebih mengarah pada suatu sistem yang mengharmonisasikan kebijakan yang ditujukan untuk memperkuat dan meningkatkan perekonomian negara-negara anggotanya, termasuk pula harmonisasi hukum dan sosial. Meskipun harus melepaskan beberapa kebijakan nasional, kedaulatan setiap negara anggota tetap dipertahankan.

:: 2007®eview by mc, awarded 2nd winner in 2007 my offc’s book review contest ::




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.